Powered by Blogger.
RSS

Berbahagialah..MENGURUS AKTA KELAHIRAN TAK PERLU LAGI BERSIDANG



Menjadi masyarakat yang bahagia sudah pasti menjadi dambaan dari setiap orang bahkan dambaan dari setiap pemimpin di kota ataupun di bangsa ini. Negara sudah penuh sesak dihuni oleh banyak manusia, dalam hitungan jam di setiap pulau di Negara ini terdengar tangisan dari bayi mungil yang baru lahir, tangisan itu tak hanya dari bayi yang baru lahir saja, bahkan tangisan itu muncul dari perut-perut keroncongan yang sudah seharian belum makan, apakah itu hanya kalimat hiporbala saja? Sudah bisa dipastikan tidak, bangsa ini masih banyak menangis sekalipun bahagia itu harus kita bangun dan kita bangun terus. Terlepas dari semua itu, kita patut bersyukur dan senantiasa bertambah kesyukuran kita agar masyarakat yang menghuni minimal kota kita tercinta ini menjadi lebih baik hendaknya. Salah satunya “mengurus akta kelahiran tak perlu lagi bersidang”, berdasarkan Putusan Mahkamah Kontitusi No: 18/PUU-XI/2013 tanggal 30 April 2013 pukul 14.30 WIB.
Disini yang pada awalnya Mengurus Akta Kelahiran diperlukanan proses dipersidangan sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negera Republik Indonesia Tahun 2006, Tambahan Lembaran Neraga Republik Indonesia Nomor 4674 yang berbunyi:
a.       Pelaporan kelahiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) yang melampau batas waktu 60 (enam Puluh ) hari sampai dengan 1 (satu) tahun sejak tanggal kelahiran, pencatata dilaksanakan setelah mendapat persetujuan kepala instasi setempat ;
b.      Pencatatan kelahiran yang melampau batas waktu 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan berdasarkan penetapan Pengadilan Negeri ;
c.       Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara pencatatan kelhairan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Presiden.
Jika kita runtut dalam proses pembentukan suatu perundang-undangan ada terdapat asas-asas formal diantaranya asas tujuan yang jelas, asas perlunya pengaturan, asas organ atau lembaga yang tepat, asas materi muatan yang tepat, asas dapat dilaksanakan, asas dapat dikenalai. (menurut A. Hamid. S. Attamimi). Ketentuan pasal tersebut juga bertentangan dengan filosofi dan asas pembentukan perundangan-undangan yakni, harus mencerminkan pengayoman, kemanusiaan, dan dapat dilaksanakan dan bertentangan dengan pasal 28D ayat (4) Undang-Undangan Dasar 1945 yang berbunyi “setiap orang berhak atas status keawarganegaraan”.
Dalam hal konteks kebahagian masyarakat, saya hanya ingin mengambil asas pertama dari asas formil yakni asas tujuan yang jelas.Hidup kita pun harus punya tujuan yang jelas, seminimalnya punya tujuan menjadi hidup kita bahagia. Sekali lagi sepatutnya kita berterimakasih kepada Zat yang Menciptakan Kita dan juga kepada Pemohon berprofesi sebagai tukang parkir yang mengajukan permohonan Judicial review atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negera Republik Indonesia Tahun 2006, Tambahan Lembaran Neraga Republik Indonesia Nomor 4674. Seorang warga Negara yang menyelamatkan kebahagiaan banyak orang. Marilah kita berbahagia seperti bahagianya kita menjalani hari-hari kehidupan kita. Marilah kita buka mata dan pandanglah apa yang ada dihadapan kita, saksikanlah seluar mata memandang, hamparan kebun tulip..
"Berkunjung ke sebuah taman yang penuh dengan bunga tulip lalu ada kincir air yang membuat bunyi bergemericik lembut. Embun turun dengan sejuknya pertanda hari akan kembali sejuk. Menatap jauh ke ruang waktu ada hamparan bahagia yang terbentang luar menggugah jiwa. Semilir angin pagi dengan rumput hijau luas, sejuk di mata."
Gambaran kebahagian di atas tentu akan membawa mata kita jauh ke seluruh pandang hijau dengan bunga yang indah, tapi kalau kembali kita tanya pada diri ini, apakah dengan pandangan seperti itu kita sudah bahagia seutuhnya, apakah bahagia kita tak di buat-buat? apakah bahagia kita hanya fatamorgana? Silahkan kembali kita tanya pada diri kita masing-masing sudah bahagia kah kita? karena bahagia itu milik semua, milik rakyat kecil, milik bangsa ini, milik anak-anak, milik dewasa, milik semua makhluk.
Sedikit demi sedikit kita akan ditarik jauh dari rasa bahagia ketika kita lupa menyadari bahwa kita butuh bahagia itu. Kita banyak dilalaikan untuk melupakan arti bahagia itu, bahkan kita telah lupa rasa bahagia itu seperti apa. Sudahlah..hapus segala gundah, hapus segala kegalauan, hapus segala duka karena bahagia itu milik semua. Kita berbuat untuk kebahagiaan kita dan kita berbuat untuk kebahagiaan orang lain, sedihlah kita ketia disaat kita bisa tertawa dan senyum bahagia namun di sudut rumah dan jalan kita masih sangat banyak anak-anak kecil berurai air mata karena menahan sakit perut yang telah beberapa hari tak ada yang menjanggal untuk di isi.
Jadi, bahagia kah kita, ketika masih banyak orang lain yang belum bahagia, bahkan kita juga lupa untuk berbagi bahagia dengan orang lain, selanjutnya sudah sepatutnya lah kita menyadari bahwa saya, kita semua harus bahagia selalu..karena bahagia itu milik semua..sehingga kali ini berbahagilah..


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jujur itu menyenangkan

Pengertian dan Hakikat Jujur Menurut Islam
Illustration from image google
Jujur dapat diartikan bisa menjaga amanah. Jujur merupakan salah satu sifat manusia yang mulia, orang yang memiliki sifat jujur biasanya dapat mendapat kepercayaan dari orang lain. Sifat jujur merupakan salah satu rahasia diri seseorang untuk menarik kepercayaan umum karena orang yang jujur senantiasa berusaha untuk menjaga amanah. Amanah adalah ibarat barang titipan yang harus dijaga dan dirawat dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Berhasil atau tidaknya suatu amanat sangat tergantung pada kejujuran orang yang memegang amanat tersebut. Jika orang yang memegang amanah adalah orang yang jujur maka amanah tersebut tidak akan terabaikan dan dapat terjaga atau terlaksana dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika amanah tersebut jatuh ke tangan orang yang tidak jujur maka ‘keselamatan’ amanah tersebut pasti ‘tidak akan tertolong’.
Dengan demikian, jujur dapat pula diartikan kehati-hatian diri seseorang dalam memegang amanah yang telah dipercayakan oleh orang lain kepada dirinya. Karena salah satu sifat terpenting yang harus dimiliki bagi orang yang akan diberi amanah adalah orang-orang yang memiliki kejujuran. Karena kejujuran merupakan sifat luhur yang harus dimiliki manusia. Orang yang memiliki kepribadian yang jujur, masuk dalam kategori orang yang pantas diberi amanah karena orang semacam ini memegang teguh terhadap setiap apa yang ia yakini dan menjalankan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
Karena orang yang jujur umumnya akan bertanggung jawab penuh akan segala yang diberikan atau dibebankan kepadanya maka pasti ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan kewajibannya tersebut dengan sungguh-sungguh. Selain itu orang yang dalam lubuk hatinya mengalir darah kejujuran maka ia tidak akan sanggup menyakiti atau melukai perasaan orang lain. Dan karena itulah orang semacam ini pantas diberi amanah, dengan kejujurannya ia tidak akan sanggup mengecewakan orang yang telah memberinya amanah tentukan bukan amanah yang menyesatkan.
Kejujuran adalah perhiasan orang berbudi mulia dan orang yang berilmu. Oleh sebab itu, sifat jujur sangat dianjurkan untuk dimiliki setiap umat Rasulullah saw. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (Q.S. an-Nisa: 58).
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu menghianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Q.S. al-Anfal: 27).
Dari dua ayat tersebut didapat pemahaman bahwa manusia, selain dapat berlaku tidak jujur terhadap dirinya dan orang lain, adakalanya berlaku tidak jujur juga kepada Allah dan Rasul-Nya. Maksud dari ketidakjujuran kepada Allah dan Rasul-Nya adalah tidak memenuhi perintah mereka. Dengan demikian, sudah jelas bahwa kejujuran dalam memelihara amanah merupakan salah satu perintah Allah dan dipandang sebagai salah satu kebajikan bagi orang yang beriman.
Orang yang mempunyai sifat jujur akan dikagumi dan dihormati banyak orang. Karena orang yang jujur selalu dipercaya orang untuk mengerjakan suatu yang penting. Hal ini disebabkan orang yang memberi kepercayaan tersebut akan merasa aman dan tenang.
Jujur adalah sikap yang tidak mudah untuk dilakukan jika hati tidak benar-benar bersih. Namun sayangnya sifat yang luhur ini belakangan sangat jarang kita temui, kejujuran sekarang ini menjadi barang langka. Saat ini kita membutuhkan teladan yang jujur, teladan yang bisa diberi amanah umat dan menjalankan amanah yang diberikan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Dan teladan yang paling baik, yang patut dicontoh kejujurannya adalah manusia paling utama yaitu Rasulullah saw. Kejujuran adalah perhiasan Rasulullah saw. dan orang-orang yang berilmu.
sumber:http://hikmah-kata.blogspot.com/2012/09/pengertian-dan-hakikat-jujur-menurut.html?showComment=1369110984010#c8614893972940972947

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menang?

Kemenangan itu tak akan pernah lari di kejar, ibarat tak akan pernah lari gunung di kejar, yang membuat ia lari hanyalah sebuah persepsi bahwa kemenangan itu jauh dari kita. Tidak, jangan katakan menang itu jauh, menang itu sangat dekat, dekat sekali, sedekat persepsi kemenangan dalam diri kita. Ia adalah sebuah tekad kemenagan dalam sebuah kerangka perjuangan.

Kita masih saja berkutat dalam urusan diri pribadi, bagaimana menang itu akan di raih, bagaimana sobat?menang itu tak hanya sendiri, ia menang dengan bersama, seperti pasukan Solahudin al Ayyubi, ia menang persepsi dan tekad, dan ia tak mau menang sendiri, bagaimana persepsi yang kita punya mampu kita tularkan dan berikan pada semua, inilah pemenang sejati. Pemenang yang menang di saat orang lain menang. Jika Alloh swt takdirkan kemangan itu akan di raih, namun Alloh swt minta kemenangan itu ada usaha dan perjuangan kita. Bagaiman kita akan menang, masih saja cengeng dengan urusan pribadi yang berlarut, masih saja tak mampu mengurus pribadi dengan maksimal, bagaimana kita akan menjadi pemenang, sedangkan ketika terjatuh sedikit saja, langsung mundur dan tak mampu berlari bahkan tak mampu melangkah lagi.

Bagaimana menang akan kita raih? Bagaimana sobat? silahkan kita jawab sendiri, karena ia adalah persepsi dan tekad, ia sebuah loncatan kemanangan. Menang itu tak sendiri, tapi bersama, bersama membangun peradapan kebaikan, membuang segala kecengengan, membuang segala keegoisan, membuang segala kemalasan, membuang segala kemarahan, membuang segala buruk sangka, kita menag itu tak sendiri karena lidi yang sendiri tak akan mampu menyapu, ia baru bisa menyapu kalau lidi-lidi yang kita punya, kita satukan. Menang? itulah adalah tekad dan persepsi kita untuk menang bersama, tujuannya hanya satu sobat..JannahNya..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kesungguhan Totalitas

Totalitas kita hanya untuk Alloh swt,tak ada maksud lain yg ingin di raih.kalaupun Alloh swt beri sesuatu dari yg kita senangi sudah sepatutnya kita rendahkan diri ini bersyukur padaNya, tetapi perlu kita bertanya pada diri ini yang sedalamnya, jika masih ada latar belakang selain Alloh swt kita melakukan suatu kebaikan, maka perlu digaris bawahi bahwa diri ini masih jauh dari totalitas. Masih jauh dari keikhlasan, Alhamdulillah Alloh masih memberikan kita semua kesempatan untuk mengmuhasabah diri,bahwa ternyata diri saya ini perlu dibenahi,masih jauh dari totalitas,masih jauh dari ikhlas. Perjuangan ini adalah cinta,tapi kenapa harus dikotori oleh ketidak ikhlasan, Alloh akan bantu kita jika kita tolong agama Alloh. Semuanya yg kita inginkan adalah hadiah dari Alloh swt atas perjuangan yg kita lakukan,yg harus kita luruskan adalah kita tidak mengharapkan hadiah itu,sehingga totalitas cinta kita pada Rabb akan semakin kuat.

Baiklah, agar sedikit memaknai, mari sama-sama kita pahami.Tajarut bermakna totalitas, yakni totalitas di dalam menyerahkan pengabdian, menyerahkan pengabdian hanya pada Alloh semata. Yang mana induknya adalah keikhlasan.

Totalitas kita yakin bahwa semua nikmat yang ada adalah nikmat dari Alloh swt, makna ini bisa dikembalikan dalam kalimat alhamdulillah. Semua yang kita miliki Alloh yan berikan, cara merealisasikannya dengan cara totalitas dalm mengabdi kepada alloh. Ikhlas adalah mengesakan Alloh.

Tajarut menurut syar'i adalah: melakukan sesuatu hanya karena Alloh, apapun itu. Jia ikhlas terpelihara maka yang kecil nilainya akan menjdai besar, sebaliknya apa yang nampak besar disisi manusia jika tidak ada ikhlas maka nilainya nol di mata Alloh. Sebagaimana kita totalitas dalm berbuat kebaikan maka juga totalitas pula kita menolak keburukan.

Dalam hidup kita harus totalitas memainkan peran kita. Ikatan iman paling tingi adalah engkau mencinta dan membenci karena Alloh, hadapkan lurus cinta kita pada Alloh. Tataplah atas fitrah Alloh yang telah menciptakan manusia.Bertaubat,bertaqwa, kepadaNya. Imam syahid hasan Albanna mengatakan:  Membebasan pikiran dirimu semua dari apa yang selain Alloh. Membesarkan diri tidak karena figuritas, cara dari tajarut adalah Mentadaburi ayat Alloh dan hadits sehingga totalitas kita akan seamakin kuat dari hari ke hari. Dan juga kekuatan dzatiyah lebih dominan hendaknya daripada lingkungan kita. Sebagai intinya tidak ada zuhud kecuali dengan taqwa yang totalitas.

Mari kembali kita muhasabah diri ini untuk senantiasa bertobat dari berusaha menjadi hamba yg sholeh, tidak merasa yg paling hebat,tidak merasa yg paling suci, tidak merasa yg paling pintar, tidak merasa yg paling pintar.karena cinta saya total untuk Mu Rabb yang menguasai hati setiap manusia. Yakinlah kita akan janji Alloh swt sembari terus tekun beribadah.

gambar: http://hilmanmuchsin.blogspot.com/2011/12/kesungguhan-dan-harga-surga.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lemah Lembutlah dalam Bertutur Kata

Alhamdulillah atas semua keberkahan dan nikmat yang masih senantiasa kita dapatkan sampai detik ini, nikmat iman, kesehatan dan tentunya nikmat kecintaan ku pada Mu..Rabb yang selalu menyayangi dan memberikan nikmat pada hambanya. Tak sepatutnya kita gunakan lisan-lisan kita hanya untuk hal-hal yang tak  bermanfaat apalagi menggunakan lisan untuk senantiasa menyakiti hati orang lain, semoga senantiasa kita terhindar dari sifat-sifat yang tidak baik tersebut..amin. Nah..sobat tentu banyak hikmat dalam setiap detiknya yang bisa kita ambil termasuk nikmat lisan dan nikmat lainnya, kali ini berikut bisa dibaca "lemah lembutlah dalam bertutur kata.
sumber: http://remajaislam.com/islam-dasar/akhlaq-mulia/65-lemah-lembutlah-dalam-bertutur-kata.html

Segala puji bagi Allah, Rabb yang berhak disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Semakin maju zaman, semakin manusia menjauh dari akhlaq yang mulia. Perangai jahiliyah dan kekasaran masih meliputi sebagian kaum muslimin. Padahal Islam mencontohkan agar umatnya berakhlaq mulia, di antaranya adalah dengan bertutur kata yang baik. Akhlaq ini semakin membuat orang tertarik pada Islam dan dapat dengan mudah menerima ajakan. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita perangai yang mulia ini.

Perintah Allah untuk Berlaku Lemah Lembut
Allah Ta'ala berfirman,
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. ” (QS. Al Hijr: 88)
Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan, “'Berendah dirilah' yang dimaksud dalam ayat ini hanya untuk mengungkapkan agar seseorang berlaku lemah lembut dan tawadhu' (rendah diri).”[1] Jadi sebenarnya ayat ini berlaku umum untuk setiap perkataan dan perbuatan, yaitu kita diperintahkan untuk berlaku lemah lembut. Ayat ini sama maknanya dengan firman Allah Ta'ala,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159). Yang dimaksud dengan bersikap keras di sini adalah bertutur kata kasar.[2] Dengan sikap seperti ini malah membuat orang lain lari dari kita.
Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia ini.”[3]

Keutamaan Bertutur Kata yang Baik

Pertama: Sebab Mendapatkan Ampunan dan Sebab Masuk Surga
Dari Abu Syuraih, ia berkata pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ
Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.” Beliau bersabda,
إِنَّ مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلامِ، وَحُسْنُ الْكَلامِ
Di antara sebab mendapatkan ampunan Allah adalah menyebarkan salam dan bertutur kata yang baik.[4]

Kedua: Mendapatkan Kamar yang Istimewa di Surga Kelak
Dari 'Ali, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang Arab Badui bertanya, “Kamar-kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau pun bersabda,
لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
Kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa saja yang tutur katanya baik, gemar memberikan makan (pada orang yang butuh), rajin berpuasa dan rajin shalat malam karena Allah ketika manusia sedang terlelap tidur.[5]

Ketiga: Bisa menggantikan Sedekah
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
Tutur kata yang baik adalah sedekah.[6]
Dari 'Adi bin Hatim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
Selamatkanlah diri kalian dari siksa neraka, walaupun dengan separuh kurma. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka cukup dengan bertutur kata yang baik.[7]
Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan tutur kata yang baik sebagai pengganti dari sedekah bagi yang tidak mampu untuk bersedekah.”[8]
Ibnu Baththol mengatakan, “Tutur kata yang baik adalah sesuatu yang dianjurkan dan termasuk amalan kebaikan yang utama. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (dalam hadits ini) menjadikannya sebagaimana sedekah dengan harta. Antara tutur kata yang baik dan sedekah dengan harta memiliki keserupaan. Sedekah dengan harta dapat menyenangkan orang yang diberi sedekah. Sedangkan tutur kata yang baik juga akan menyenangkan mukmin lainnya dan menyenangkan hatinya. Dari sisi ini, keduanya memiliki kesamaan (yaitu sama-sama menyenangkan orang lain).”[9]

Keempat: Menyelematkan Seseorang dari Siksa Neraka
Dalilnya adalah hadits Adi bin Hatim di atas. Ibnu Baththol mengatakan, “Jika tutur kata yang baik dapat menyelamatkan dari siksa neraka, berarti sebaliknya, tutur kata yang kotor (jelek) dapat diancam dengan siksa neraka.”[10]

Kelima: Dapat Menghilangkan Permusuhan
Ibnu Baththol mengatakan, “Ketahuilah bahwa tutur kata yang baik dapat menghilangkan permusuhan dan dendam kesumat. Lihatlah firman Allah Ta'ala,
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Tolaklah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat: 34-35). Menolak kejelekan di sini bisa dengan perkataan dan tingkah laku yang baik.”[11]
Sahabat yg mulia, Ibnu 'Abbas -radhiyallahu 'anhuma- mengatakan, "Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini."
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa."[12]

Berlaku Lemah Lembut Bukan Berarti Menjilat
Perlu dibedakan antara berlaku lemah lembut dengan tujuan membuat orang tertarik dan berlaku lembah lembut dengan maksud menjilat. Yang pertama ini dikenal dengan mudaroh yaitu berlaku lemah lembut agar membuat orang lain tertarik dan tidak menjauh dari kita. Yang kedua dikenal dengan mudahanah yaitu berlaku lemah lembut dalam rangka menjilat dengan mengorbankan agama. Sikap yang kedua ini adalah sikap tercela sebagaimana yang Allah firmankan,
وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ
Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al Qalam: 9)
Ibnu Jarir Ath Thobari menafsirkan ayat di atas, “Wahai Muhammad, orang-orang musyrik tersebut ingin kalian berlaku lembut pada mereka (dengan mengorbankan agama kalian) dengan memenuhi seruan untuk beribadah kepada sesembahan mereka. Jika kalian demikian, maka mereka akan berlaku lembut pada kalian dalam ibadah yang kalian lakukan pada sesembahan kalian.”[13]
Oleh karenanya, orang yang bersikap mudaroh akan berlemah lembut dalam pergaulan tanpa meninggalkan sedikitpun prinsip agamanya. Sedangkan orang yang bersikap mudahin, ia akan berusaha menarik simpati orang lain dengan cara meninggalkan sebagian dari prinsip agamanya.
Hendaknya kita bisa memperhatikan perbedaan antara mudaroh dan mudahanah. Lemah lembut yang dituntunkan adalah dalam rangka membuat orang tertarik dengan akhlaq kita yang baik. Sikap pertama inilah yang akan membuat orang menerima dakwah, namun tetap dengan mempertahankan prinsip-prinsip beragama. Sedangkan lemah lembut yang tercela adalah jika sampai mengorbankan sebagian prinsip beragama dan mendiamkan kemungkaran tanpa adanya pengingkaran minimalnya dengan hati.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita tutur kata yang baik dan akhlaq yang mulia. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.com
Diselesaikan dengan anugerah Allah di Panggang-Gunung Kidul, 24 Muharram 1431 H


[1] Adhwaul Bayan, Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, 3/238, Dar Ilmi Al Fawaid.
[2] Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, 3/233, Muassasah Qurthubah.
[3] Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, 3/232,
[4] HR. Thobroni dalam Mu'jam Al Kabir no. 469 (Maktabah Al 'Ulum wal Hikam, cetakan kedua, 1404 H). Al 'Iroqi dalam Takhrij Al Ihya' (2/246) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (bagus). Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah (1035) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan perowinya terpercaya.
[5] HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad (1/155). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[6] HR. Ahmad (2/316) dan disebutkan oleh Al Bukhari dalam kitab shahihnya secara mu'allaq (tanpa sanad). Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.
[7] HR. Bukhari no. 6023 dan Muslim no. 1016.
[8] 'Iddatush Shobirin wa Dzakhirotusy Syakirin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 109, Mawqi' Al Waroq
[9] Syarh al Bukhari, Ibnu Baththol, 17/273, Asy Syamilah.
[10] Syarh al Bukhari, 4/460.
[11] Syarh al Bukhari, 17/273.
[12] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243.
[13] Tafsir Ath Thobari, Ibnu Jarir Ath Thobari, 23/157, Tahqiq: Dr. Abdullah bin Abdil Muhsin At Turki, Dar Hijr.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS