Powered by Blogger.
RSS

Catatan Perjalanan : Liburan “Surga Kecil itu Bahagia”


Tanggal merah pada ngapain? Pertanyaan yang harus segera saya jawab sepertinya karena saya sudah lebih dahulu liburannya. Nah, ini dia pengalaman liburan saya, semoga saja bisa jadi liburan sehat dan bermanfaat yah.


Daun yang sudah mulai menguning itu tepat ada di atas kepala saya, batang besar milik “katapiang” dengan buah kecil berdiameter 5 cm, menyerupai buah kelapa, tetapi rasanya seperti kacang “mede”,begitu kata “uni” penghuni dan penjaga pulau. Semilir angin dan deburan ombak pulau angsa dua menambah sejuk suasa siang tengah hari. Tidaklah mengapa, sedikit meluruskan pinggang di atas bale-bale dari kayu, di ujung sana, ada dua pulau lagi yang akan siap kami kunjungi.

Pasir putih dengan batu karang yang sudah mati, ikut menepi oleh ombak yang tak bosan bergelombang. Putih itu kian berlari-lari karena setiap menepi kembali dikejar oleh air yang membiru. Lukisan mahakarya indah yang hanya bisa dinikmati oleh sejuknya mata yg sedang memandang.

08.00 WIB

Langit cerah sepenggal matahari naik, siap meluncur, dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam melaju ringan, roda dua di bawah berjalan lancar, jaket tebal siap dipasang, perjalanan darat kira-kira 2,5 jam menuju pariaman dari kota kelahiran ku “payakumbuh”.

10.30 WIB

Angin segar tiba-tiba menyeruak di balik hijau dan rimbunnya pohan cemara pinus Casuarina cunninghamian”, berjejer di sepanjang jalan pantai kata, cermin, gondoria. Jauh diseberang sama sekitar 2 mil dari pantai ada empat pulau berbaris  sejajar dengan tepian pantai sumatera bagian tengah. Kecepatan laju motor sudah mulai mengecil, sambil asyik menikmati, memanjakan mata dengan banyaknya jajanan tradisional “sala lauak, udang tepung, dll”. Sembari melaju, bau ikan segar sehabis di tangkap semalam hinggap di hidung siapa saja yang lewat dekat pasar ikan dikumpulkan sebelum di bawa ke pasar-pasar merambah konsumen. 

11.20 WIB

Muara tempat kapal merapat dan berlabuh. Siap-siap bersatu dengan biru air, dengan bermodalkan menyewa kapal nelayan bermesin kecil, kami melaju ringan. Riak dan busa air laut pecah ketika mesin perahu dihidupkan. Modal berenang yang pas-pas an tak lah mengapa jika berani mecoba, tiga orang cukup dan satu orang bapak yang punya kapal. Terasa kecil raga ini di Maha Kuasa penciptaan Mu, kapal kecil malaju, tepat berada di tengah antara tepian dan pulau yang kami tuju, hanya keimanan yang ditanya, tak perlu ada kesombangan, tak perlu ada keanggkuhan, tak perlu ada kemewahan, tak perlu ada ketakukan karena yang ditanya keimanan ketika dalamnya laut di bawah sana, betapa banyaknya terumbu karang, betapa birunya air laut, ia seolah berkata “bahwa saya dan kita yang berada di atas perahu hanyalah sebagian kecil dari apa yang ada tampak di luasnya samudera”

11.55 WIB

Merapat sudah perahu kami di tepi pulau angsa dua, duduk sejenak menikmati sejuknya angin dan indahnya jejeran “molluscusumang-umang kecil di atas pasir putih pantai. Saat tiba waktu dzuhur kami pun sholat dzuhur di surau yang ada di pulau. Tak lah terlalu besar, “surau tuo” kecil yang dibangun persis di debelakangnya ada kuburan panjang yang bersejarah, sehabis sholat dari jendela surau yang dibangun tinggi, saya perhatikan ke bawah cukup panjang juga kuburannya.



13.30 WIB


Pertualangan kami dimulai, segar sudah mata ini, segar sudah jiwa ini, segar sudah pandangan ini setelah bercaka-cakap dengan Sang Pemilik Jiwa. Kaki kami terus melangkah, tangan kami terus mengayun, sembari tas ransel kecil yang tersandang siap juga mengayun dalam selempang untuk mengitari pulau yang tak terlalu besar dengan luas kira-kira 3,5 hektar, sehingga tak butuh banyak waktu untuk mengitarinya. Seperti berjejer kami berjalan dan sibuk dengan kegiatan  masing-masing. Ada sebongkah bahagia di dalam dada ini karena ia bermuara, bermuara pada Zat yang menciptakan seluruh yang tanpak indah dan mengesankan sekalipun masih ada beberapa sampah plastik yang dibuang di lokasi tepian pulau. 



Matahari tak lagi tepat di tengah kepala, sudah bergeser sesudut segitiga sama kaki, namun panasnya masih saja membuat peluh kami menetes, denga bekal makan dan minum orange jus dingin..mmm segar sekali. Nasi bungkus yang telah sebelumnya kami siapkan, siap untuk dilahap, bekal untuk bapak yg membawa kapal, juga tak lupa kami siapkan, sehabis semalam ia mencari ikan, tentulah kantuk sangat menyerang, terlelap sudah bada raganya di atas bale-bale bambu dengan angin yg sadap.

                                                                                                                                             bersambung

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

dian silvira said...

waaaahh.. liburan yang menyenangkan sepertinya.. :)

jadi iri... hhee...

nia assyifa said...

Alhamdulillah dian..menyenangkan:)dian baa kabarny?

ayo mari liburan ke payakumbuh..